Bina Cinta Lingkungan



Beberapa hari yang lalu aku mengikuti kegiatan yang sungguh menarik. Bina cinta lingkungan yang salah satu tujuannya untuk mengamalkan salah satu dari tridharma perguruan tinggi. Kegiatan ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa 51. Awalnya ada rasa malas untuk mengikuti kegiatan ini, tapi kemudian ambil sisi positifnya saja, hitung-hitung refreshing. 

Aku dan ratusan teman sekelas berkesempatan untuk mengunjungi salah satu desa di dekat IPB. Dengan menumpang angkot yang sudah disediakan pihak kampus, aku dan teman satu kelompok berangkat menuju desa tersebut. Perjalanan memakan waktu sekitar lima belas menit. Sesampainya di sana kami langsung dibagi tugas sesuai dengan kelompok masing-masing. Desa ini terbagi menjadi dua, disebelah utara terdapat pemukiman warga yang rapat, dan disebelah selatan terdapat lahan pertanian warga yang umumnya ditanami tanaman umbi-umbian.

Banyak tugas yang harus kami selasaikan, tiap kelompok memiliki tanggung jawabnya masing-masing. ada yang bertugas membersihkan mushala, got, jalanan, kuburan, parit, dll. Kelompok kami kebetulan mendapat tugas untuk membersihkan jalan di tengah-tengah perkebunan. Aku sempat dibuat bingung, kenapa di tengah-tengah lahan pertanian seperti ini banyak sekali sampah-sampah plastik. Berbagai macam sampah plastik mulai dari bungkus jajanan, hingga bungkus detergen. Sempat terlintas dipikiran ku, mungkinkah para warga membuang sampah mereka ditempat ini.

Beberapa saat kemudian kelompok kami diminta untuk pindah lokasi. Kali ini kami diminta untk membersihkan got. Kabar dari salah seorang warga, got ini merupakan saluran pembuangan dari tiga rumah yang berisi para lansia. Got itu juga kabarnya menjadi sarang nyamuk yang menyebabkan beberapa warga terjangkit wabah DBD. Hal pertama yang aku dan teman-teman bayangkan adalah joroknya got itu. Benar saja, got yang akan kami bersihkan adalah got yang mampet dengan warna hitam legam, bau yang menyengat dan sampah yang bertumpuk.

Salah seorang warga mengajak kami untuk melihat kemana aliran got ini berakhir. Setelah itu kami mulai mengenakan masker dan mulai membersihkan got tersebut. Belum sampai satu menit kami memulai membersihkan got itu, tiba-tiba sepasang suami istri datang dan menanyakan kami sesuatu. Sepasang suami istri ini menanyakan kemana akhir dari saluran got ini. Ternyata sepasang suami istri initidak setuju jika got ini dilancarkan alirannya, karena apabila dilancarkan salurannya akan menuju ke kebun jambu milik mereka. Dosen pembimbing kami pun kemudian melakukan berbagai pendekatan agar sepasang suami istrii ini mau memahami kondisi yang ada. Namun sepasang suami istri ini tetap menolaknya dengan alasan kebun jambu milik mereka akan kotor, dan sebentar lagi akan dibangun rumah. 

Dosen pembimbing kami terus memberi penjelasan bahwa kebun mereka hanya akan kotor untuk sementara waktu saja, namun setelah beberapa hari nantinya masyarakat sekitar bisa bergotong royong untuk memberekan masalah pembuangan ini. Menurutku saran dosen pembimbingku sangatlah benar, got ini harus secepatnya dibersihkan dan dilancarkan alirannya, karena jika tidak akan menimbulkan banyak dampak buruk bagi masyarakat sekitar. Tetapi entah mengapa sepasang suami istri ini tetap tidak setuju. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, mengapa mereka tidak mau berkorban sedikit demi kebaikan bersama, bayangkan saja jika got yang amat menjijikkan itu membawa penyakit bagi keluarganya sendiri apa yang akan dia perbuat, menyalahkan diri sendiri kah, atau menyalahkan para tetangga, atau mungkin malah menyalahkan genangan air busuk di got itu. Akhirnya ibu RT menyuruh kami untuk berpindah tempat saja.
Tempat selanjutnya kami dibawa ke dekat mushala. Awalnya aku kira kami akan membersihkan mushala, tetapi ternyata tidak. Betapa terkejutnya aku ketika melihat setumpukkan sampah berserkan dibagian depan sebelah kiri mushala. Tidakkah mereka berpikir untuk membuang sampah di pelataran depan mushala? Tempat yang seharunya bersih dan suci, namun malah dikotori denan tangan-tangan yang seenaknya membuang sampah tanpa melihat tempat. Akhirnya kami membersihkan sampah-sampah tersebut.

Kekecewaan ku dengan hal-hal tadi sempat mereda ketika seorang warga memperbolehkan kami untuk mengambil buah jambu miliknya. Dengan penuh semangat kami mengambil jambu-jambu yang besar dan menggoda. Jenis jambu batu merah, yang kabarnya baik untuk penderita penyakit DBD karena mampu meningkatkan jumlah trombosit dalam tubuh. Selepas membersihkan sampah-sampah tersebut kami pun menyantap jambu-jambu yang sudah kami petik dengan lahap. Setidaknya rasa manis dari jambu ini bisa sedikit menghilangkan rasa lelah kami.

Ternyata tugas kami belum selesai, kami masih harus melanjutkan pekerjaan kami sebelumnya yakni membersihkan jalan yang ada di tengah-tengah kebun warga. Rumput-rumput liar dan sampah plastik yang sudah kami kumpulkan harus dibuang ke TPA. Aku kembali terkejut ketika ternyata desa ini tidak memiliki TPA. Satu-satunya tempat yang biasa mereka gunakan sebagai TPA adalah tepi sungai. Gimana Jakarta gak banjir kalo dari Bogor aja masyarakat udah buang sampah di sungai. Memang tidak langsung ke sungai, tapi siapa yang bisa jamin kalau nantinya jika ada angin bertiup atau hujan turun sampah-sampah itu masih tetap berada di tepian sungai? Aku kembali teringat dengan tumpukkan sampah dipelatarn mushala tadi, mungkin masyarakat tidak punya pilihan lain karena memang tidak ada TPA. 

Setelah bersih-bersih salah seorang temanku bertanya kepada penduduk sekitar. Dia bertanya tentang gotong royong di desa ini. Ternyata mereka jarang sekali melakukan gotong royong, bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Memang terlihat jelas bagaimana masyarakat sekitar kurang peduli dengan lingkungannya. Aku sempat memperhatikan banyak pemuda di daerah ini yang malah menonton kami bersih-bersih, bukannya ikut membantu kami. Satu hal dalam pikiran ku. Mungkinkah mereka menganggap kami sebagai budak mereka yang harus membersihkan desa yang selama ini mereka tempati?

Pengalaman Bina Cinta Lingkungan ini sungguh luar biasa. Aku mengetahui bagaimana budaya desa yang sudah mulai hilang, terutama desa yang berada tidak jauh dari kota. Bagaimana sifat saling menghargai, saling tolong menolong, sifat gotong royong, dan sifat cinta alam yang sudah mulai agak berkurang. Bagaimana belajar membantu sesama, merasakan indahnya lingkungan jika kita dapat menjaganya. Semoga desa lain lebih baik dari desa ini.
Share on Google Plus

About shalih

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar :